Demonstrasi : Sedikit unek-unek yang dangkal

Definisi demonstrasi atau unjuk rasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal.

Akhir-akhir ini di Indonesia, demonstrasi begitu marak dan mudah terjadi untuk mengekspresikan ketidakpuasan atau kekecewaan terhadap sikap dan kebijakan pemerintah. Protes-nya sendiri mengkritisi pemerintah dalam banyak hal, seperti kebijakan yang dinilai tak adil, janji-janji program yang belum bisa direalisasi, bahkan sampai penanganan suatu kasus krusial. Unjuk rasa atau demonstrasi sendiri bahkan bisa menuntut pelaksanaan hal-hal ekstrim, seperti pemakzulan presiden *wow*

Saya bukan orang yang anti unjuk-rasa. Unjuk rasa adalah hal penting sebagai  ‘guardian’ wewenang berlebih dari pemerintah. Unjuk rasa penting untuk menstimulasi kesadaran masyarakat agar kritis terhadap segala bentuk aktivitas kenegaraan. Unjuk rasa penting untuk menyulut reaksi ‘massive’ terhadap aksi-aksi atau gerakan perbaikan lain yang akan mendukung terlaksananya kehidupan kenegaraan yang ideal. Benar, unjuk rasa penting akan hal itu.

Tetapi perlu diingat, hanya unjuk rasa ideal yang akan berdampak se’indah’ itu. Unjuk rasa dimana semua partisipan telah paham secara mendalam dan komprehensif mengenai apa-apa yang dituntutnya. Unjuk rasa dimana semua partisipan mengerti mekanisme hukum, sehingga menuntut keadilan yang FAKTUAL akan sesuatu. Unjuk rasa dimana semua partisipan berniat tulus untuk benar-benar memperjuangkan kepentingan bangsa, bukan kepentingan golongan. Unjuk rasa dimana semua partisipan mempunyai satu visi yang jelas akan apa yang diperjuangkannya.

Memang, ada unjuk rasa yang tidak ‘ideal’ seperti itu ? Percayalah, ada.

Saya sempat berdiskusi dengan kerabat yang kebetulan sudah sangat akrab dengan dunia ke-unjukrasa-an. Kerabat saya ini salah satu pejabat di lingkungan hukum, yang sejak era reformasi telah mempelajari unjuk rasa dari segala sisi, bahkan melakukan penelitian didalamnya. Pembicaraan luar biasa dengannya membuka fikir saya, menggali intuisi saya, akan jawaban atas pertanyaan “ Kenapa unjuk rasa yang luar biasa dan ada dimana-mana masih terkadang tidak dan kurang efektif dalam membantu menyelesaikan masalah pemerintahan? “. Tapi tentu pengecualian untuk aksi luar biasa mahasiswa dalam usahanya menurunkan tahta mantan presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Karena mayoritas pendapat mahasiswa adalah idealism nya tentang unjuk rasa, mari kita sedikit intip sudut pandang dari orang-orang yang biasa di’unjuk-rasa’-i. Supaya nantinya, kita sebagai mahasiswa, dapat mengerti akan sudut pandang orang-orang ini, jadi nantinya kita akan berjuang dengan menggunakan syarat-syarat atau metode yang sesuai dengan pandangan orang-orang ini, supaya terjadi keselarasan antara subyek dan obyek demo. Dengan itu, insyaAllah tujuan demonstrasi itu sendiri akan tercapai, demi kehidupan bangsa dan Negara yang lebih baik.

Hasil diskusi-nya kira-kira seperti ini.

Jadi, ada tiga jenis atau komponen pendemo. Pertama, orang yang membayar suatu kelompok, bahkan mungkin mahasiswa, untuk berdemonstrasi, membela kepentingan golongannya. Biasanya, kepentingaannya sarat akan niat politis, terutama, tentu saja, kekuasaan.

Kedua, suatu kelompok demonstran yang berdemonstrasi atas bayaran. Kelompok ini bahkan bukan accidental. Menurut kerabat saya, sudah ada orang-orang yang mempunyai kekuasaan atas sejumlah massa, yang siap di order untuk kebutuhan demonstrasi, jumlah massa nya bahkan sampai ribuan.  Sungguh naas, ironis, dan miris. Demokrasi yang diperjuangkan saat reformasi. Demokrasi yang menyerahkan kekuasaan pada rakyat, malah dimanfaatkan rakyatnya sendiri untuk membolak-balik kekuasaan demi materi. Semakin-lah lengkap penderitaan bangsa ini. Bangsa yang berjuang untuk kemaslahatan rakyatnya malah dikhianati oleh rakyatnya sendiri. Menurut kerabat saya, demonstran tipe ini bahkan sering tidak mengetahui apa yang dia demonstrasi-kan , asal ikut aja katanya ^^ .

Ketiga, ini yang saya suka, kelompok demonstran yang bersih, yang memang memperjuangkan kepentingan rakyat di setiap demonstrasi-nya. Tidak ada kepentingan golongan disana, tidak ada niat politis disana.

Kesalahan sangat kentara terlihat pada pendemo tipe pertama dan kedua, dan kesalahannya sudah absolut, tidak usah kita perdebatkan lagi.

Nah, tipe pendemo ketiga lah yang seharusnya kita kaji lagi, karena tipe ini merupakan ujung tombak dari pejuang pejuang rakyat. Sebuah kelompok, pemuda, yang bersemangat gigih dengan niat yang tulus untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Lalu apa yang perlu kita kaji ? Intelektualitas.

Bahwa pendemo adalah dari kalangan mahasiswa, tidak menjamin intelektualitas dan relevansi tuntutan dari unjuk rasa itu sendiri, tidak menjamin bahwa mereka semua memahami substansi dan ‘goal’ dari unjuk rasa itu sendiri. Bahwa pendemo adalah aktivis dari akademisi, tidak menjamin bahwa substansi unjuk rasa dapat bergerak selaras dengan hukum ditinjau dari segi materiil.

Karena saya kebetulan mendapatkan kesempatan menjadi mahasiswa, mari kita bahas dari segi mahasiswa. Di kalangan saya, banyak sekali indikasi bahwa peserta demonstrasi bahkan tidak mengerti apa yang mereka perjuangkan, tidak punya alasan kuat dari aksi mereka. Dari cerita teman saya di salah satu PTN terkenal di Bandung yang di beberapa bulan pertama-nya sudah ikut demonstrasi , saya berkesimpulan bahwa salah satu alasan mereka berdemonstrasi adalah mereka merasa bahwa mereka adalah mahasiswa yang agung itu. Mereka tiba-tiba merasa jadi pejuang setelah diajak berdemo. Tiba-tiba mereka berpikir sangat kerakyatan, tiba-tiba ‘dikit-dikit’ rakyat, tanpa memikirkan substansi hakiki dan efek yang akan ditimbulkan oleh unjuk rasa itu. Hal ini yang menurut saya sangat janggal sekali. Contohnya, dia diajak aksi untuk unjuk rasa saat pelantikan presiden hasil pemilu 2009. Dia sangat bersemangat, dia mau. Alasannya, ‘ siapa lagi yang memperjuangkan hak-hak tukang sapu di jalan bila bukan kita, mahasiswa ?’ dan yang lainnya. Saya tidak menyalahkan niat tulus ini. Saya memang setuju dengan pendapat ini. Tapi apakah itu waktu yang tepat untuk berunjuk rasa ? . Hak siapa yang kamu perjuangkan saat itu ? Memang hak siapa yang telah terlanggar saat mereka baru dilantik ? Memang apa yang telah mereka lakukan ? . Saya akan sangat setuju aksi ini dilakukan , bila waktu nya tepat, bila memang sudah ada penyimpangan disana. Bukan berarti kita menunggu rakyat menderita, baru kita beraksi, bukan . Maksud saya, ayo berikan sedikit dulu kepercayaan pada pemerintah yang baru untuk melakukan sesuatu. Toh bila nantinya mereka gagal atau mengecewakan, kita berhak disana. Mungkin kami mahasiswa sudah muak dengan banyak kegagalan pemerintah, tapi mari kita coba husnudzan, kita coba berikan kepercayaan itu. Unjuk rasa tanpa substansi yang jelas dan relevan seperti ini akan sangat mempengaruhi citra mahasiswa di mata  pemerintahan, yang nantinya akan mempengaruhi sensitivitas pemerintah terhadap aksi kita. Bagaimana kalau resistensi pemerintah terhadap aksi-aksi terjadi karena kesalahan kita ? Karena unjuk rasa-unjuk rasa kita terdahulu yang tidak substansial, sehingga pemerintah meremehkan intelektualitas kita ? . Pikirkan juga pencitraan mahasiswa di mata masyarakat. Unjuk rasa yang seenaknya, anarki, tidak substansial, (bikin macet), malah membuat masyarakat under-estimate  terhadap aksi-aksi mahasiswa. Jadi bukannya stimulus masiv pergerakan yang akan ditimbulkan oleh aksi-aksi kita, melainkan tanggapan-tanggapan negative seperti “apaan sih mahasiswa” , “emang siapa sih mereka, sok pahlawan” . Kita, mahasiswa, memang punya idealisme, tapi jangan lupakan pentingnya pencritaan mahasiswa di masyarakat dan pemerintah, karena itupun mempengaruhi efektivitas unjuk rasa.

Itu tentang mahasiswa yang tak mengerti substansi unjuk rasa.

Setali tiga uang, ada juga mahasiswa yang memang sudah mencakup syarat ideal untuk berunjuk rasa, tapi kerap menuntut hal yang tidak FAKTUAL kepada oknum pemerintah, sedangkan hukum sendiri harus bersifat FAKTUAL. Menurut hasil diskusi saya dengan kerabat, dalam beberapa perkara pidana, harus di buktikan adanya unsur niat dalam melakukan tindak pidana, oleh karena itu di KUHP banyak ditulis ‘barangsiapa dengan sengaja’. Nah, oknum pemerintah, kerap menerima tuntutan yang tidak faktual dari mahasiswa. Mahasiswa menuntut untuk memenjarakan ini, menghukum mati ini, menurunkan ini, dsb. hanya dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang terlihat dan dangkal, padahal perlu tinjauan hukum yang mendalam, yang bahkan seorang sarjana hukum-pun belum mampu melakukannya. Saat pemerintah tidak bisa mengabulkan dengan segera tuntutan mahasiswa, mahasiswa mengganggap bahwa pemerintah bekerja lamban, sarat unsur politis, dan pandangan negatif lainnya. Walaupun ada kemungkinan itu, tapi yang sering terjadi adalah, oknum hukum sendiri pun belum bisa membuktikan terlaksananya pidana itu, bukan menutup- nutupi. Oknum hukum sendiri pun butuh waktu untuk  menganalisis bahwa ada unsur niat dalam tindak pidana itu.

Saya tidak berani memberikan contoh kasus, tapi bisa teman-teman tinjau sendiri di kasus yang sedang hangat saat ini, dengan pansus superior nya J

Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menyalahkan salah satu pihak atau membela salah satu pihak. Tulisan ini ditujukan agar ada kesadaran saling memahami antar komponen unjuk rasa, baik subyek ataupun obyek-nya. Karena saat terjadi keselarasan, dimana komponennya saling menghargai, proses kebangsaan akan berjalan sangat elok dan kepentingan rakyat akan terjamin, tanpa ada salah satu pihak yang dihinakan. Kita, sebagai mahasiswa, memang harus bersyukur atas posisi kita yang strategis dalam proses kebangsaan. Idealisme kita memang dibutuhkan bangsa ini untuk menjaga stabilitas kepemerintahan. Tapi, jangan terbuai dengan keagungan itu, jangan merasa dengan status ini kita-lah yang pasti benar. Sesungguhnya mereka yang dipemerintahan pun seorang intelektual, yang berpengalaman di bidangnya. Terkadang mereka lebih expert atas proses-proses yang harusnya berjalan. Kita sebagai demonstran, harus meninjau semuanya lebih dalam, bukan hanya keadaan ideal yang kita tuntut, tapi kita harus mengerti sulitnya proses itu (diluar konteks politis yang mungkin terjadi). Mari kita saling menghargai , saling menghormati, saling percaya ^^

Pasti banyak sekali kesalahan analisis dan kedangkalan fikir di tulisan ini, jadi maap yak !

Hidup mahasiswa , Jaya Negeriku, Sejahtera rakyatku , Allahuakbar !

Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.

~ by Poundra Adhisatya Pratama on 05/02/2010.

One Response to “Demonstrasi : Sedikit unek-unek yang dangkal”

  1. Hehe, makasih :) .

    Nah itu dia bang, saya ngerasa agak ga adil di tulisan ini. Yap, golongan itu ada, tapi engga saya sebutin, yg saya sebutin malah yang kurang2, hehe ^^

    Makasih koreksi + tambahannya bang .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: