Kebermaknaan

Cerita lucu, menggemaskan, dan inspiratif ini diambil dari secarik kertas di buku Larger than Life – Tony Raharjo .

Menurut saya , ini hebat ^^

Silahkan dibaca, semoga bermanfaat .

Suatu ketika, terdapatlah sebuah hutan rimba yang di dalamnya berdiri sebuah kerajaan binatang.

Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja hutan yang sangat disegani oleh seluruh penghuni hutan. Suatu hal yang wajar sebab ia gagah,berwibawa, dan kuat. Raja itu bernama singa.

Sebagaimana lazimnya dalam sebuah negeri, seluruh penghuni kerajaan itu sepakat ingin memajukan hutan itu, membangunnya agar aman, tenteram, adil, dan sejahtera. Sang Raja berpikir untuk mewujudkan hal itu dibutuhkan sumber dayaa binatang yang berkualitas. Ia pun berpikir, binatang yang berkualitas adalah binatang yang memiliki kemampuan seperti dirinya; tegap, kokoh, mampu berlari cepat, mengaum keras, dan sifat lain yang dimilikinya.

Lalu diseleksilah para bintangan dengan syarat seperti yang dikehendaki sang Raja. Tak selang berapa lama, diumumkanlah hasil seleksi tersebut. Binatang-binatang yang lolos dikategorikan sebagai binatang kelas satu karena dianggap mampu memberikan makna dan manfaat bagi hutan itu. Sedangkan yang tidak lolos dikatakan sebagai warga kelas dua, yang tak mampu memberi manfaat, bahkan ada yang dimusnahkan karena dianggap akan memperlambat pembangunan.

Kejadian selanjutnya, tak berapa lama, kerajaan itu justru mengalami kemunduran. Sang Raja pusing dan membuat sebuah tim investigasi untuk mencari tahu penyebab kemunduran negerinya. Tim itu diketuai oleh kancil yang selama ini terkenal cerdas, dibantu oleh burung hantu yang pandai,

Investigasi pun berlangsung hingga tibalah hari untuk membacakan hasil temuan tim investigasi di lapangan kepada sang Raja. namun, saat itu, yang hadir ternyata hanya sang kancil. Setelah lama ditunggu, burung hantu tak kunjung tiba. Akhirnya dimulailah pertemuan itu. Masalah kembali terjadi saat kancil tak bisa membacakan hasil temuannya karena terserang radang tenggorokan. Dengan kesal, akhirnya Sang Raja membaca sendiri hasil temuan tim investigasi.

Simpulan dari hasil tim investigasi tentang sebab kemunduan kerajaan adalah karena tidak semua warga kerajaan diberikan kesempatan untuk memberi makna atas diri dan hidupnya sendiri. Mungkin memang seekor burung dapat berlatih untuk bisa berlari cepat. namun, bukankah maknanya akan lebih terasa jika burung itu tetap terbang dan memberikan maknanya lewat kemampuannya terbang .

Hal itu pun dirasakan oleh warga hutan lainnya. Mereka mencoba memenuhi syarat kebermaknaan yang ditentukan Sang Raja, yang pada akhirnya mereka justru kehilangan kebermaknaan dirinya sendiri. Tak berapa lama, burung hantu datang sambil meminta maaf atas jeterkabatannya. Sang Raja tersenyum dan mengerti mengapa burung hantu datang terlambat Ya, karena burung hantu datang ke tmpat pertemuan itu dengan berlari, bukan terbang. Ia pun melirik si Kancil yang masih mengelus-elus tenggorokannya karena lelah belajar mengaum. Tak ada batas syarat untuk dapat memberi makna, siapa pun dia, kecil-besarkah, cepat-lambatkah, hitam-putihkah semua memiliki makna sendiri-sendiri. Itu pelajaran yang bisa diambil oleh Sang Raja

Jadi , tidak ada batas minimal untuk teman-teman memberikan makna pada hidup, baik untuk pribadi atau orang lain . Setiap kita pati memiliki kekurangan, bukan berarti setiap dari kita tak mampu nmemberikan makna . Kita harus dapat dan memberikan makna dalam segala kekurangan kita , itulah yang Islam ajarkan .
Wallahu’alam

~ by Poundra Adhisatya Pratama on 31/01/2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: