Mahasiswa Kedokteran & Akupunktur – Curhat :)

Mahasiswa (Kedokteran) dan Akupunktur

Akupunktur adalah teknik memasukkan jarum ke titik akupunktur tubuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Definisi serta karakterisasi titik-titik ini di-standardisasi-kan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Indonesia pun, tempat praktik Akupunktur sudah begitu menjamur dan lumayan mendapat kepercaaan dari beberapa kalangan masyarakat karena telah menyembuhkan keluhan-keluhan kesehatan mereka. Terlebih lagi, opsi pengobatan Akupunktur dinilai lebih praktis dan ekonomis dibanding pengobatan medis ke dokter, yang mengharuskan konsusmi obat kimia dengan waktu yang lumayan lama, bahkan dengan fakta bahwa kesembuhan pun belum dijamin.

Secara umum di masyarakat, Akupunktur dipandang sebagai pengobatan alternatif yang mungkin biasa saja. Tetapi, ada beberapa masalah atau ketidakcocokan antara dunia medis dengan akupunktur. Walaupun pada implementasinya akupunktur juga menyembuhkan, tapi terdapat beberapa masalah fundamental yang patut dipertanyakan oleh kita, sebagai insan dunia medis. Pertama, ilmu akupunktur tidak mempunyai basis anatomis dan histologis mengenai titik akupunktur-nya. Jadi, akupunktur tidak punya Mechanism of Action dari pengobatannya. Akupunktur pun tidak bisa menjelaskan mengapa jarum harus ditusukkan di bagian tubuh ini, di sebelah sini, atau berapa lama. Kedua, sterilitas yang terkadang kurang terjaga dari para pelaku akupunktur karena mereka tidak dibekali pengetahuan medis.

Bila ditinjau dari sudut pandang pasien, tentu Akupunktur tidak salah. Dengan serentetan bukti yang menyatakan bahwa Akupunktur memang menyembuhkan dengan lebih praktis, ekonomis, dan jangka waktu yang relatif tidak lama, mereka tentu akan memilih Akupunktur, demikianpun bila saya menjadi pasien. Tidak salah pula mereka mulai meninggalkan pengobatan medis dokter yang dinilai terlalu mahal, lama, ditambah lagi bila kualitas sosial dokter (baca:keramahan) yang kurang .

Dan juga bukan merupakan kesalahan, bila ditinjau dari ahli Akupunktur non-dokter. Mereka dibekali dasar ilmu sebatas akupunktur. Mereka pun cukup meyakini bahwa akupunktur memang menyembuhkan. Mereka berhak bahkan wajib mengamalkan ilmu mereka kelak kepada pasien, karena mereka dibekali dasar ilmu terbatas titik akupunktur yang dapat menyembuhkan keluhan pasien, tidak lebih dari itu, dan kewajiban mereka sebatas itu.

Tetapi tentu ini merupakan pertentangan moral dan etika bagi seorang dokter. Kita, dokter, diajarkan untuk memahami sebuah penyakit dimulai dari history taking pasien sampai treatment.Memahami disini, adalah benar-benar memahami. Bagaimana penyakit ini timbul ? Mengapa bisa menimbulkan gejala ini pada pasien ? Apa yang harus saya berikan pada pasien untuk dapat menyembuhkan penyakit ini ? Mengapa saya harus memberi obat ini, bagaimana obat ini bekerja ?. Serentetan pertanyaan inilah yang harusnya ada di pikiran setiap dokter. Artinya, seorang dokter mempunyai dasar yang LUGAS dan DEFINITIF atas apa-apa yang dia lakukan pada pasien. Tentu kita wajib melakukannya atas dasar ilmu yang LUGAS dan DEFINITIF karena kita telah dibekali ilmu sampai sana, sehingga kita wajib menerapkannya, tidak seperti ahli akupunktur non-medis yang tak berkewajiban sampai sana karena mereka tidak dibekali ilmu sejauh itu.

Bagaimana kami, Mahasiswa Fakultas Kedokteran ?

Tentu saja, kami sebagai calon dokter, harus berlatih mempunyai pola pikir layaknya dokter. Dalam pandangan saya, dalam konteks seorang dokter, idealnya, kita tidak layak memberikan bahkan menganjurkan seseorang pergi ke pengobatan alternatif yang tidak berdasar medis kuat, bukan hanya akupunktur, tapi yang lain. Karena bila kita mulai mencoba bersikap permisif pada perngobatan macam ini, atau mungkin hanya pada akupunktur, akan mulai luntur pula kredibilitas dunia medis. Bukan mengenai gengsi atau harga diri, tapi insan medis sudah selayaknya berpikir kritis, strategis, dan berpola lugas demi kepentingan pasien. Walaupun sudah banyak bukti yang menyatakan bahwa akupunktur ampuh untuk penyembuhan, tapi tetap dalam konteks seorang dokter kita perlu bukti medis, bukan bukti empiris. Dan kita, sebagai mahasiswa fakultas kedokteran, sudah seharusnya berpikir demikian juga. Tidaklah layak kita mulai bersikap pro dan permisif terhadap tindakan alternatif yang tak berdasar medis. Sekali lagi, bukan demi gengsi dan harga diri, tapi demi kepentingan pasien juga.

Bukankah dalam sumpah dokter pun tercantum , Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;” ? . Bukankah martabat dan tradisi luhur kedokteran adalah memberikan yang terbaik bagi pasien dengan dasar ilmu kuat yang dia punya ? Bukankah tradisi kedokteran yang luhur adalah tidak akan membiarkan pasien melakukan tindakan alternatif yang tak berdasar medis kuat sehingga dapat membahayakan dirinya sendiri ? Jawabannya ; IYA .

Diatas semua argument negatif, selalu ada peluang untuk menemukan irisan antara dunia kedokteran dan akupunktur ini. Seorang dokter, atau mahasiswa kedokteran yang tertarik, akan sangat berpeluang, suatu saat, menemukan dasar anatomis dan histologis dari akupunktur ini, InsyaAllah. Tapi, tetap, selama proses pencarian, saya tetap menolak, dalam konteks seorang dokter, penggunaan akupunktur yang dianjurkan. Karena Rasulullah SAW pun mengajarkan untuk meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, bukan ?

Tulisan ini bukan bertujuan untuk meninggikan dunia kedokteran dan merendahkan dunia akupunktur, sama sekali tidak. Karena pada dasarnya keduanya adalah sama dan sejajar, ingin memberikan kesembuhan pada pasien, sama-sama tugas mulia. Ini hanya sebuah opini etis dan terbuka mengenai suatu paradigma. Semoga suatu saat, irisan itu akan tercapai, sehingga dunia kedokteran dan akupunktur dapat mewujudkan pelayanan terbaik bagi pasien, rumah sakit, negara, bahkan dunia.

*Sekalian bikin tugas BHP*🙂

Maaf lagi-lagi nge-post pemikiran dangkal🙂

~ by Poundra Adhisatya Pratama on 02/06/2010.

2 Responses to “Mahasiswa Kedokteran & Akupunktur – Curhat :)”

  1. kesehatan itu diraih oleh si pasien juga mahal harganya, apakah semahal sumpah jabatan seorang dokter? jika anda ragu-ragu ttg akupunktur maka tetaplah anda pada sisi MEDIC saja, jangan ke wilayah THERAPY (pengobatan tradisional), apalagi mencoba me-medis-kan akupunktur…itu tidak bakal ketemu…karena dalam akupunktur itu materi inti pelajaran adalah ENERGI yg sementara dari pengakuan Anda sulit dibuktikan ilmiahnya. Akhirnya biarkanlah masyarakat yang membutuhkan pengobatan memilih jalannya untuk sembuh, toh banyak bukti bahwa akupuntur dinegara asalnya sejak 5000 tahun SM digunakan untuk promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, bahkan sampai dengan sekarang dalam dunia medis China, karena AKUPUNKTUR / JING LUO adalah warisan berharga nenek moyang bangsa China yang adi luhung, sudah teruji oleh waktu…..

  2. hehe. kalau saya lihat, pendapat kita ga berseberangan ya, mas cahyo. Kita sama-sama setuju kalo ideal-nya seorang dokter di medic aja, karena memang kompetensi dan tanggung jawab dia di hal yang proven medically .
    Sebagai pasien, tentu kita berhak seluas2-ny untuk make mana yang terbai buat kita, apalagi akupunktur udah teruji.

    sip, makasih banyak mas cahyo, sekalian di kritisi tulisan yang lain, buat nambah-nambah ilmu saya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: