Panti Asuhan Al-Fajr : Tiga Hari Penuh Makna

Bismillahirrahmanirrahim,

Kesempatan untuk mendapat pembelajaran hidup sesungguhnya banyak, asalkan kita mau menyelami secara seksama nilai-nilai di setiap gerak hidup yang kita jalani. Banyak memang, tapi kadar ‘kejelasan’-nya itu yang beda-beda. Nah, itu yang langka. Sebuah kegiatan di hidupmu yang menawarkan nilai pembelajaran yang sangat gamblang. Walaupun bakal balik lagi ke masing-masing pribadi, apakah mau berusaha mencari nilai itu, tapi setidaknya ada kegiatan-kegiatan yang memang menawarkan nilai pembelajaran yang jelas lagi gamblang.

Dan, itu yang baru saya dapat beberapa, entah minggu atau bulan, yang lalu, yaitu :

MAGANG DI PANTI ASUHAN !

Yap, saya mendapatkan kesempatan berharga di hidup saya yang mungkin tidak akan saya lakukan kalo nda dipaksa kaya gini, yaitu mencicipi kehidupan panti asuhan selama beberapa hari.

Gimana ceritanya yak kok saya bisa dipaksa magang di panti asuhan ?

Lumayan unik sih ceritanya, karena magang ini sebenarnya hukuman buat saya dari pihak dekanat karena saya membawa kendaraan roda empat ke bale, bahkan parkir disana, bahkan nginepin mobilnya disana berhari-hari, dan bahkan setelah dikasih dua surat peringatan sebelumnya. Ah, sungguh bukan teladan yang baik ya. Pelajaran 1 : Peraturan dibuat untuk menertibkan dan ditaati, bukan untuk mempersulit dan dilawan, so don’t break the rules bro (Tapi kalo hukuman-nya malah nambah pelajaran hidup, gimana?) – Allahu’alam.

Sebagai hukuman, kami diminta untuk magang di panti-panti yang telah ditentukan dekanat, jadi para terdakwa tinggal memilih panti mana yang akan disatroni, serta menentukan tanggalnya. Dan tentu kami tidak sendiri mengarungi hutan rimba itu, para terdakwa dipasang-pasangkan untuk memilih tempat dan waktu magang yang sama.

Dan orang yang beruntung untuk magang bersama saya, dan saya pun beruntung karena magang sama beliau, adalah Achmad Triadi Setiawan a.k.a Mamet. Kami sempat menyatroni panti yang ada di daftar, tapi karena ada beberapa kendala, kami terpaksa  pindah ke panti lain yang masih satu yayasan dengan panti awal.

Akhirnya, datang juga. Bukan, akhirnya kami mendatangi panti baru itu, berdua. Saat itulah kami pertama kali bertemu seorang akhwat paruh baya yang juga pengurus puncak panti disitu, beliau biasa dipanggil Umi Cucu.

Akhirnya kami menjelaskan masuk kedatangan kami, termasuk pernyataan bahwa kami adalah terdakwa. Dan Alhamdulillah, kami diizinkan untuk magang disitu selama  4 hari (buat saya) dan 3 hari (buat mamet) –perbedaan waktu hukuman ini karena saya terlambat datang 15 menit sewaktu pertemuan untuk pengumuman punishment dari dekanat. Ah, lagi-lagi sungguh bukan teladan yang baik. Pelajaran 2 , Just don’t be late for any reason, akan ada beberapa kerugian besar yang akan kamu sadari atau tidak .

Umi Cucu mengawali penjelasan, “ Disini ada sekitar 16 Orang, masih SD kebanyakan, malah ada yang belum sekolah. Yang paling gede kelas 1 SMP. “ . Huah, entah apa pikiran mamet, tapi saya lega. Setidaknya kalau masih pada bocah, bandel-bandel nya paling belum sampai anarkis, kecuali ada yang kelainan.

Umi Cucu pun lanjut menjelaskan, “ Kalau disini, selama liburan, anak-anak dikasi materi Agama  dari jam 09.00 sampai  Dzuhur. Kalian ngisi materi disitu aja ya ? “ .  Entah apa yang ada di pikiran mamet, tapi kalau saya jadi labil. Menggiurkan jelas, karena hanya dalam waktu 2-3 jam mengajar, udah terhitung satu hari magang. Tapi sulit, karena kita mengajar Agama ke anak-anak yang range umurnya agak jauh dari kita, takutnya pola pikir kita kurang kompatibel dengan pola pikir anak seumuran mereka. Tapi kemudian mamet punya solusi, yaitu dengan mengajarkan materi-materi yang ada di textbook (yang kebetulan masih mamet punyai).

Oke, cukup pengantarnya, izinkan saya memperkenalkan beberapa dari mereka, Mujahid-Mujahidah muda calon pemimpin bangsa dan calon pendobrak kejayaan Islam di dunia🙂

Yang ini namanya Sa’id. Dia mas’ul di panti ini karena dia paling berumur di antara teman-teman panti lainya. Kelas 1 SMP di SMP Yaqin, Pasteur.  Dia  bercita-cita menjadi dokter, suka Bang Sa'idmain bola.  Di panti, Sa’id paling sering berinteraksi langsung dengan kita-kita, mungkin karena umur dia yang paling dekat sama kita, dan memang dasarnya dia adalah anak yang supel. Agak idealis soal tata rambut, dan kelihatannya Sa’id memakai semacam wax atau gel untuk menata rambut nya.

Yang disebelah ini namanya Ilham. Dia sekarang duduk di kelas 6 SD. Ilham PintarCita-cita bocah ini adalah pemain bola, ingin seperti El Loco katanya. Selama di Panti, anak ini lah yang paling menonjol kemampuan belajar-nya. Dia selalu sangat mudah menghapal, dan aktif memberikan jawaban setiap ada sesi pertanyaan, pokoknya keren banget. Semoga Allah memberi kemudahan ke bocah ini untuk menyalurkan potensi-nya yang luar biasa, AMIN.

Ali Tukang Bobo Kalo ini, namanya Ali. Sebenarnya tidak ada yang  special dari bocah yang dicurigai berdarah oriental ini  (lihat mata,red.), kecuali kemampuan dan kemauan tidur-nya yang luar biasa. Berdasarkan pengakuan  warga setempat (warga panti), membangunkan Ali saat dia sedang tidur sudah diibaratkan dengan menegakkan benang basah. Dengan kata lain, bisa, tapi hesye pisan, udah agak mustahil. Bocah ini bisa ngamuk kalau dibangunin paksa. Dan, fakta mencengangkan lain adalah, anak ini bisa tidur sampai 18 Jam per-hari saat liburan, Subhanallah ^^

Nah, kalau yang ini biasa dipanggil Icha. Dia bocah paling mungil di panti. Si Mungil IchaIcha manja banget sama Umi Cucu, hobinya digendong dan nyumput di balik si Umi. Icha pemalu banget, kata Umi kalau ada orang baru yang minta kenalan ama Icha, dia suka nangis. Lucu sih, tapi bisa bikin orang yang mau kenalan itu down. Orang yang ngajak kenalan itu bisa-bisa menganggap wajah mereka terlalu serem untuk anak kecil polos kaya Icha.  Tapi, waktu itu Mamet ngajak kenalan + main kok ngga nangis ya Icha-nya ?

Sebenarnya ada satu anak lagi yang unik, namanya Fa’iz, dia semacam sumber tawa disana, udah kaya Sule di OVJ kalo mulai beraksi, dan kita sering dijadiin objek sama dia ^^

Ada yang merasa belum mendapat esensi ?

Kalau saya, dengan memperhatikan kehidupan mereka sehari-hari disana, sungguh, banyak teguran implisit yang saya dapat. Banyak tamparan dan inspirasi yang benar-benar mereka suguhkan disana, hanya dengan mengijinkan saya melihat aktivitas hidup mereka sehari-hari.

Pertama,  Umi Cucu. Ya Allah, sungguh mulia bidadari ini. Beliau merelakan dan mengabdikan waktu dan tenaga hidup-nya untuk menghidupi anak-anak yang bahkan tidak punya ikatan kekeluargan dengannya. Beliau menjadi ibu bagi belasan anak itu, ibu yang dijadikan tempat mengadu saat hati mereka resah, ibu yang melerai setiap perselisihan kecil di antara mereka, ibu yang mengawasi jam tidur mereka, ibu yang mengontrol sendiri perkembangan akademik mereka dan bahkan ibu yang memasak sendiri nasi dan daging yang mereka makan. Umi Cucu memperjuangkan kehidupan belasan anak itu, InsyaAllah dengan ikhlas, hanya supaya belasan anak itu mempunyai kualitas hidup yang baik di masa depan, bukan jadi anak terlantar  yang tidak makan dan tak mengenyam pendidikan di pinggir jalan

Dan apa ? Pengabdiannya bukanlah sesuatu yang akan terlihat besar, tapi akan terasa besar. Saat suatu saat nanti belasan anak itu berhasil, Umi Cucu tidak akan dipandang sebagai pahlawan besar oleh khalayak. Umi Cucu tidak akan diberi penghargaan dan apresiasi yang luar biasa oleh khalayak, walaupun sesungguhnya, pengabdiannya saat ini, telah berpengaruh besar pada lahirnya (InsyaAllah) pahlawan-pahlawan masa depan itu.

Keikhlasan pengabdian seorang Umi Cucu-lah yang, eergh, buat saya terharu.

Sudahkah kita begitu ? Sudahkah semua pengabdian kita memang berorientasi kepadaNya, bukan hanya jebakan rutinitas atau bahkan hanya target popularitas ?

Untuk teman-teman yang aktif di kampus, ini akan menjadi introspeksi yang bagus sekali ^^ .

Bagi yang belum, sudah saatnya pikirkan akhir dari semua aktivitas kita, tujuan dari semua-nya.

Kalau semua ini dilakukan karena arus kemahasiswaan semata, buatlah orientasi-mu, supaya tak hanya  lelah yang kau enyam.

Kalau semua ini dilakukan karena popularitas semata, rubah orientasi-mu, karena kemuliaan di sisi Allah jauh lebih berharga dari semuanya.

Kedua, bersyukur. Wah, kalau untuk tema yang satu ini, rasanya media tulisan bukanlah media yang efektif untuk penanamannya, terutama karena saya kurang pandai merangkai kata-kata romantik yang bisa menyentuh para pembaca-nya.

Yang jelas, saya merasa patut bersyukur dengan keadaan saya saat ini. Bukan karena mereka tidak lebih bahagia dari saya, karena siapa tahu sebenernya mereka jauh lebih bahagia dari saya.

Saya hanya mau bersyukur karena orang tua saya masih ada, mendampingi saya dulu sampai saat ini. Karena saya masih bisa merasakan perhatian dan bimbingan dua orang paling berarti dalam hidup saya, yang menanamkan Aqidah Islam pertama kali di diri saya, sehingga setidaknya saya tahu kemana kaki ini harus melangkah. Karena saya masih bisa merasakan nikmatnya hidup berkecukupan atas nafkah dari dua orang yang paling menyayangi  saya di duia ini. Karena saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk membalas semua pengabdian dan kebaikan mereka kepada saya, walaupun rasanya sampai mati pun tak akan sepadan ^^

Bagi yang masih punya orang tua, manfaatkan, karena percayalah, kita tidak selamanya bersama mereka. Waktu yang ada tidak akan pernah cukup untuk membuat kita puas bersama mereka dan membalas semua pengabdian mereka .

Dan, bersyukurlah atas apapun yang kalian punyai sekarang. Karena bersyukur bukan menunggu bahagia, tapi kamu akan bahagia bila bisa bersyukur. Teman-teman disana masih bisa tertawa, berbagi, bahkan menularkan kebahagiaannya kepada kami berdua, padahal mereka tak punya orang tua dan tinggal di panti asuhan bersama anak yang lainnya. Apakah ada jaminan kondisi di atas membuat mereka tidak bahagia ? Big NO.

Kebahagiaan adalah suatu anomali, tidak bisa diukur dengan jumlah harta minimal, kemampuan minimal, atau apapun yang kamu punyai di dunia ini. Kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa didapat dengan keadaan apapun, tergantung hati-mu menentukan, kamu cukup dengan  keadaan itu atau tidak. Bahkan dengan ketiadaan pun, seperti yang adik-adik panti rasakan, rasanya kebahagiaan tetap menyelimuti mereka, karena mereka bersyukur dan merasa cukup atas apa yang mereka punya.

Saya menulis ini bukan berarti saya sudah mencapai tahap ideal-nya, tapi malah jadi cambukan diri untuk memulai dan terus berlari ke arah sana, InsyaAllah🙂

Terimakasih PDIII atas hukumannya. Terimakasih Umi Cucu dan Barudak Al-Fajr atas ilmu dan inspirasinya, semoga Allah selalu menunjukkan jalan terbaik-Nya untuk kalian, AMIN

Senyum :)

*wlee* + Jempol

~ by Poundra Adhisatya Pratama on 08/08/2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: