Random tentang Dakwah : Baru Bangun Tidur

Kayaknya random banget nulis ini baru bangun tidur, dan ini jam 10 pagi. Habis Subuh (naas-nya) sengaja tidur lagi karena ga kuat naha stressor ngebayangin belajar SOOCA. Tapi ini random yang ga merugikan, terlintas begitu saja tapi lumayan esensial (maunya).

Bicara masalah Dakwah, apalagi masih mahasiswa, patut bersyukur karena aktivis-aktivis Dakwah banyak yang begitu militan, kuat memegang teguh idealisme kebenaran, dan jumlahnya (Alhamdulillah) ga sedikit. Berada di sekitar mereka sungguh patut disyukuri, karena bisa jadi wahana saling mengingatkan, saling menguatkan.

Tersentil dikit sih, eh ga dikit deng, tersentil banget sama tulisan Ust.Anis Matta di buku ‘Dari Gerakan Ke Negara’ yang redaksi persis-nya saya lupa, tapi intinya mengatakan bahwa Aktivis Dakwah jaman sekarang, walaupun ga semuanya, cenderung membuat batas-batas  superioritas akhlak dibanding lingkungan sekitarnya. Batas-batas yang mereka buat sendiri terhadap diri mereka dan lingkungannya.

Walaupun itu cuman satu-dua kalimat, tapi itu PENTING ! . Aktivis Dakwh yang sudah tau kebenaran itu seperti apa, dan mungkin konsekuensinya adalah mereka sudah menjalankan kebenaran itu, malah membatasi dirinya dengan orang-orang yang tidak menjalankan kebenaran. Malah merasa superior, merasa akhlak-nya lebih mulia, merasa amalan-nya lebih hebat, dan (naudzubillah) ujung-ujungnya hanya berakhir pada kebanggan diri, Naudzubillah.

Hal sederhana, simpel, semua pasti kepikiran, semua pasti tau. Tapi tetap perlu diingat sepanjang waktu. Sama kaya niat, yang harus konsisten sebelum, saat, dan sesudah proses, hal ini pun sama. Jangan sampai di tengah-tengah perjuangan Dakwah ini, muncul kebanggan diri yang menistakan itu, sehingga menggagalkan cita-cita Dakwah Islam. Mending kalo gagal-nya Eksplisit : TUJUAN TAK TERCAPAI. Yang lebih mengerikan lagi, kegiatan Dakwah-nya terus jalan, tapi semua usaha kita ga dinilai sebagai amal ibadah oleh Allah SWT. T__T

Hehe, udah sih, intinya tulisan ini mau mengingatkan diri sendiri tentang hal di atas. Karena atmosfir kemahasiswaan yang masih begitu labil, sehingga figuritas begitu ‘dikejar-kejar’, bisa jadi ranjau tak terlihat bagi semua yang hidup di dalamnya, termasuk pekerja Dakwah, Naudzubillah.

Terakhir, sebelum ditutup. Terinspirasi satu Quote dari Pandji waktu saya ikut Seminar Internasional MDGs di Unpad D.U. Redaksi-nya saya modifikasi dikit ya.

” Kalau sepasang suami-istri memiliki cinta yang sangat kuat, apa yang akan terjadi pada pernikahannya ? Ya, pernikahan nya akan langgeng, kuat. Begitu juga dengan Indonesia. Bila orang Indonesia satu sama lain saling menyayangi, saling menghormati, apa yang akan terjadi pada Indonesia ? Cuma satu, negeri ini makin solid, makin kuat.”

Analogi yang sama bisa kita pakai di perjuangan Dakwah ini, saudaraku. Gimana ya biar Dakwah-nya kuat, solid, tahan lama, dahsyat? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah pastikan kalau cinta kita ke saudara-saudara kita udah kuat, udah mantep. Pastikan kalau budaya saling mengingatkan, saling menguatkan, secara aktif terbiasakan (Introspeksi saya buat pribadi).

Cintai teman seperjuanganmu, Ingatkan, Kuatkan !🙂

~ by Poundra Adhisatya Pratama on 30/12/2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: