Ramadhan dan Merdeka

Usai ratusan tahun merangkak dibawah penjajahan, genap 66 tahun silam, tepatnya pada 17 Agustus 1945, dengan lantangnya Bung Karno mendeklarasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hari itu adalah Jum’at 9 Ramadhan 1364 H. Di tengah terik matahari peralihan pagi dan keringnya kerongkongan karena shaum Ramadhan, teks proklamasi dibacakan sebagai titik awal –bukan titik akhir- perjuangan kemerdekaan bangsa ini.  Ya, bangsa ini kembali tegak berdiri dari penindasan  pada bulan suci Ramadhan.

Sebuah bangsa yang merdeka, punya manusia yang juga merdeka. Bangsa merdeka bukan hanya membutuhkan pemimpin yang merdeka, melainkan membutuhkan sebuah tim yang merdeka, rakyatnya. Lihat saja, kemerdekaan bisa  kita raih bukan karena keberanian founding fathers semata,  melainkan kepedulian pemuda yang kala itu menculik mereka ke Rengasdengklok. Tak kalah, perjuangan para ulama dan petani pun turut berkontribusi.  Mereka mengorbankan individualitas dan  kenyamanan untuk sebuah kelelahan dan kemenangan.

Merdeka, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah; bebas dari perhambaan, bebas dari penjajahan, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Kemerdekaan bukan semata deklarasi masif yang berisi penolakan terhadap penjajahan. MERDEKA ADALAH NILAI, bukan sekedar deklarasi. Ketidakbergantungan pada pihak lain adalah sebuah nilai yang wajib kita tanyakan kepada diri dan bangsa kita sendiri. Bukan bermaksud negatif, namun mari kita ‘periksa’ sedikit situasi bangsa ini; tambang banyak dikuasai asing, kasus vaksin flu burung yang mencederai harga diri bangsa tak kunjung usai, praktik penegakan hukum yang seolah paralysis terikat kepentingan politik dan uang, dan –mungkin- masih banyak lagi.

Pemuda tidak hadir di dunia untuk terus mencari kesalahan dan menyalahkan keadaan. Keadaan bangsa saat ini adalah sebuah realita yang harus dicarikan solusinya, bukan sekedar dihidupkan provokasinya. Bangsa ini merindukan integritas. Keadaan pemuda saat ini adalah REPRESENTASI keadaan bangsa ini di masa depan. Bila saat kita masih dengan mudah dan tanpa rasa bersalah untuk MENYONTEK, jangan salahkan bila korupsi masih akan menjadi sahabat karib Negara ini di masa depan.  Bila saat ini kita masih dengan senang hati titip absen, maka jangan salahkan bila kursi-kursi Anggota Dewan di masa depan akan banyak kosong tak terisi saat rapat. Bila saat ini kita masih dengan bangganya tidak tepat waktu, maka jangan salahkan bila penanganan bencana di Indonesia masa depan akan sama lambatnya dengan saat ini.Bila saat ini kita dengan mudahnya egois tidak memikirkan lingkungan sekitar, maka jangan salahkan bila di masa depan akan muncul kasus vaksin flu burung lain yang akan semakin mencederai harga diri bangsa ini. Ya, kita harus memastikan bahwa diri kita telah merdeka dari hawa nafsu keduniawian yang merugikan; kecurangan, ketidakpedulian, egoisme masa muda (pengen seneng doang, ga mikirin bangsa sendiri), dan kemaksiatan yang merupakan akar dari kemunduran bangsa ini.

Ramadhan adalah kala terbaik untuk memerdekakan diri sendiri. Shaum tak hanya sekadar menahan keroncongan dan dahaga, tapi juga memastikan bahwa setiap aspek diri kita dapat kita kontrol untuk menjauhi semua kemaksiatan, untuk melakukan amal shalih yang sebanyak-banyaknya. Itulah kemerdekaan hakiki, dimana tak ada kontrol yang lebih kuat –termasuk kontrol hawa nafsu- selain kontrol akal kita terhadap diri kita sendiri. Kita merdeka dari hawa nafsu, merdeka dari godaan syaitan.

Ramadhan adalah lautan hikmah dan juga kemenangan. Kaum muslim menaklukkan 1000 kafir cukup dengan 313 pasukan pada perang Badar saat Ramadhan. Fathul Makkah, kemenangan besar tanpa pertumpahan darah pun terjadi di bulan ini.Bahkan penantian ratusan tahun bangsa ini untuk merdeka pun berakhir di bulan terbaik ini.  Saatnya kita meraih kemerdekaan yang holistik dan sempurna, meliputi seluruh aspek kehidupan kita. Yang paling utama dan berat dari semua ini adalah  kemerdekaan dari hawa nafsu yang melenakan dari tujuan utama kita; penghambaan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Bangsa adalah rakyatnya. Sebuah bangsa tak akan merdeka bila rakyatnya belum siap untuk merdeka. Maka langkah pertama untuk memerdekakan bangsa ini bukanlah perbaikan signifikan di meja pengadilan maupun di gedung DPR Senayan, melainkan perbaikan diri sendiri. Saatnya meraih kemerdekaan sejati untuk Indonesia dengan memerdekakan diri sendiri di bulan yang ‘memerdekakan’ ini. MERDEKA!

~ by Poundra Adhisatya Pratama on 22/08/2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: