Inilah Politikku

Sinopsis Buku; Inilah Politikku

Buku karya Muhammad Elvandi

1.      Latar Belakang

Islam butuh berdiri diatas Negara. Islam butuh Negara untuk jadi big brother bagi saudara-saudara muslim di Negara lain. Negara yang akan jadi kakak tertua yang akan member model dan teladan tentang bagaimana seora da’I muslim tumbuh menjadi seorang politikus muda; tentang bagaimana seorang politikus muda berkembang menjadi negarawan besar yang matang; dan bagaimana seorang negarawan muslim melukis wajah baru di kanvas Negara dengan komposisi warna Islam yang seimbang dan setara. Indonesia yang besar dan mayoritas muslim, punya peluang ini.

Ini adalah tentang kontribusi para politikus muslim untuk memperbaiki pemerintah dan negaranya. Tentang perjuangan politik menjadikan Negara yang kita tempat menjadi Negara demokratis yang madani. Saatnya Islam tampil, saatnya dalam bentuk Negara. Sehingga Islam yang ditunggu-tunggu umat manusia itu tidak sekedar berbentuk buku; tidak juga sekedar berbentuk ruang kelas dan universitas; apalagi demonstras-demonstrasi tanpa batas; juga protes asalan di luar ruang kebijakan. Islam harus matang, dalam bentuk Negara. Dan kematangan didapat dari para penjalannya, politikus.

Fokus buku ini adalah pembekalan filosofis bagi seorang muslim yang berpolitik. Ia berbicara tentang sistem politik Islam, sejarah politik Rasulullah SAW, tahapan cita-citanya dan langkah strategisnya dalam membangun pemerintahan.

Inilah islam, inilah jalanku, inilah politikku2.      Sistem Politik Islam

    1. a.       Secara bahasa, politik berarti mengelola, mengatur, memerintah, dan melarang sesuatu. Secara definisi berarti prinsip-prinsip dan seni-seni mengelola persoalan publik
    2. b.      Dalam Al-Qur’an tidak ada satupun istilah ‘politik’. Tapi, coba tengok An-Nisa:5, Al-Hajj:41, An-Nisa:58. Terdapat kata kerajaan, kedudukan, hukum, dan keadilan yang mengindikasikan masalah publik/perpolitikan. Artinya, dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk mengenai politik.
    3. c.       Politik bisa bersanding dengan Islam cukup dengan satu syarat; sesuai syari’ah. Sesuai dengan perkataan Imam Syafi’I : “Tidak ada pilitik kecuali jika sesuai dengan syari’at”. Namun, bukan berarti politik Islam itu kaku dan tertinggal, sesuai dengan perkataan Ibnu Aqil yang dinukil oleh Ibnu Qayyim dalam kitab At-Thuruq Al-Hukmiyah bahwa Siyasah yang Syar’i adalah : “Segala aktivitas yang membuat manusia lebih dekat kepada kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan, walaupun tidak dibuat oleh Rasul dan tidak ada pula wahyu yang diturunkan untuknya.”
    4. d.      Perlu diperhatikan adanya perbedaan antara an-nidzam (sistem), al-mashadir (referensi) dan al-maqashid (tujuan). Sistem adalah perangkat atau hardware, bukan isi. Sistem adalah jasad sedang ruhnya adalah referensi dan tujuan. Sistem bisa apapun, tetapi referensi sistem tetaplah Islam, tujuannya tetap islam. Sistem mungkin berbeda tiap zaman, namun tujuan tetap Islam.
    5. e.      Para sahabat sangat memahami hal diatas, sehingga ketika Rasulullah saw. wafat, mereka tidak kebingungan menentukan masa depan Islam, karena mereka memahami bahwa referensi sitem politik mereka adalah Islam. Mereka berkukuh dalam mempertahankan standarisasi Negara Islam saat itu, yaitu persatuan umat yang meliputi seluruh wilayah Islam dan menghidupkan nilai Islam di masyarakat. Namun mereka tidak kelu dalam berkreasi dan berinovasi. Mereka menentukan sistem politik Islam yang baru, yaitu sistem yang paling sesuai dengan kebutuhan zaman mereka. Sistem yang mampu menyatukan kaum muslimin sepeninggal Rasul saw.; sistemyang dapat mengakomodasi seluruh nilai Islam, yaitu Khilafah. Sistem khilafah sendiri tidak ada modelnya di zaman Rasulullah saw., sistem tersebut dibuat para sahabat sebagai saran menegakkan Islam
    6. f.        Jadi, penekanannya, sebuah sistem pastilah hasil kreasi manusia, selamanya akan selalu berkembang. Poin utamanya adalah bagaimana menguasai sistem yang ada untuk merealisasikan nilai-nilai Islam sebanyak-banyaknya.

 

  1. 3.       Sejarah Politik Islam
    1. a.       Bacaan primer para politikus muslim harusnya adalah sejarah politik agamanya, karena dari sanalah ia akan mendapatkan sumber inspirai yang kuat atas pertanyaan ‘dari mana aku mulai bergerak’.
    2. b.      Untuk itu, buku ini menceritakan Sejarah Politik Islam dimulai dari sejarah politik Rasulullah SAW; zaman Khulafaurasyidin; daulah Muawiyyah; daulah Abbasiyah; sampai daulah Utsmaniyyah yang harus rontok pada 1924 karena paham sekuler yang dibawa Musthafa Kemal Pasha ke Turki.
    3. c.       Pada bagian ini, buku ini menceritakan rangkaian strategi, kehebatan, kekalahan, dan figur-figur pemimpin yang luar biasa di tiap zamannya. Inspiratif!

 

  1. 4.       Langkah Politikku
    1. a.       Perubahan tidak dimulai dari Negara dan lembaga pemerintahan, tapi dimulai dari dalam diri manusia; sebagaimana firman Allah swt. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’du:11)
    2. b.      Itulah sebabnya, perubahan-perubahan sepanjang sejarah tidaklah dimulai oleh massa, tapi otak besar satu-dua manusia. Adapun pusat perubahan itu berawl dari ilmu serta pemahaman, sebagaimana kata Al-Ghazali; kerja-kerja besar kenabian tu bisa terwujud dengan 3 dasar, yaitu ilmu, penghayatan, dan amal.
    3. c.       Islam di seluruh sisi kehidupan; akidah dan ibadah, Negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadlina, kebudayaan dan perundang-undangan, ilmu dan kehakiman, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, serta militer dan pemikiran
    4. d.      Tujuh tahapan perjuangan peradaban

                                                              i.      Ishlahul fardi wa I’dad ar-rijal (memperbaiki individu/menyiapkan kader)

                                                            ii.      Binaul usrah muslimah (membangun keluarga muslim)

                                                          iii.      Irsyadul mujtama’ (membimbing masyarakat)

                                                           iv.      Ishlahul hukumah wa iqamatud-daulah ‘ala asasil Islam (memperbaiki pemerintahan dan membangun Negara yang Islami)

                                                             v.      I’adatul khilafah (mengembalikan Khilafah)

                                                           vi.      Tahqisus siyadah (merealisasikan kepemimpinan Islam)

                                                         vii.      I’lanu ustadziyaul ‘alam (mendeklerasikan Islam sebagai guru peradaban alam semesta)

Tahap pertama peradaban itulah yang menjadi titik tolak umat Islam dalam memulai perjuangan politik pada khususnya. Perbaikan kepribadian atau penyiapan kader adalah modal dasar perjuangan politik. Madrasah tarbiyah Rasulullah saw. di Mekkah telah menghasilkan sepuluh sahabat terbaik yang matang secara pemikiran dan gerakan. Mereka-lah yang melanjutkan perjuangan dengan sangat baik pasca Rasulullah saw. wafat.

Tahap kedua adalah pembinaan keluarga muslim, ini adalah konsolidasi lapis dua. Para kader umat yang telah siap menggelar karnaval perubahan tidak cukup tanpa didukung semangat keluarga. Target pembinaan keluarga ini sampai pada tingkat mereka mampu menghormati langkah perjuangan dakwah dan menjaga nilai-nilai asasi keislaman di rumah sehari-hari. Termasuk tepat memilih pasangan hidup yang baik dan membina anak-anak dengan tarbiyah Islamiah sejak kecil. Fase perjuangan umat dalam menyiapkan kader dan keluarga disebut orbit pengokohan internal atau MIHWAR TANZHIMI.

Tahap ketiga adalah proses transformasi nilainilai kebaikan yang diyakini pribadi ke masyarakat. Disebut juga mihwar sya’bi.

Ketika interaksi kader-kader umat semakin meluas di masyarakat, hal ini membuka peluang baru untuk memasuki institusi-institusi masyarakat yang lebih tinggi, atau bahkan membangunnya sendiri, sehingga disini, orbit perjuangan lebih meningkat menjadi orbit institusional atau Mihwar muassasi.

Terakhir, Mihwar dauli, dakwah yang telah menegara.

  1. 5.      Tsawabit Politik Islam

Tsawabitlah yang menjaga eksistensi manusia dan tetap menjadikannya sebagai seorang manusia. Tsawabit itu berupa nilai-nilai yang mengatur kehidupan manusia. Ketika manusia hidup tanpa sebuah nilai, bagaimana jadinya kehidupannya? Apakah hanya menggunakan hukum rimba seperti yang ada di dunia politik dan ekonomi hari ini?

Semua yang Tsabit adalah yang tidak menerima perkembangan, ijtihad, dan penambahan, yaitu pada tema-tema akidah seperti soal keimanan, tema ibadah seperti empat rukun Islam setelah syahadat, tema akhlak seperti pokok-pokok prinsip akhlak seperti kejujuran, keberanian .. Semua itu adalah urusan tsawabit dalam agama ..

  1. a.      Akidah Tauhid; Semua aktivitas politik harus berlandaskan Akidah terhadap Allah SWT

Datanglah sebuah lintasan pikiran di dalam hatiku; dari mana para pejuang mendapatkan kekuatan energinya untuk berjuang? Dari jaminan penghargaan tanah air dan pujian masyarakat? Padahal, keduanya merupakan sandaran yang tidak memberikan jaminan. Atau dari kepercayaan diri? Padahal, percaya diri pun tidak menjamin, karena jiwa manusia terkadang jatuh di depan badai-badai godaan dan ancaman

Sesungguhnya, sandaran itu haruslah sandaran yang kokoh, tidak kenal goncangan. Manusia harus bersandar kepada sebuah kekuatan dahsyat yang jauh lebih besar dari kekuatan apa pun di muka bumi, sehingga setiap pejuang mampu berdiri tegap dihadapan ancaman dan kokoh menghadapi penolakan masyarakat.

Alangkah ruginya seorang pejuang jika mencari-cari sandaran di muka bumi ini! Alangkah sayangnya mencari sandaran dalam kehidupan ini! Hanya ada satu-satunya sandaran yang tak akan pernah bergoncang, satu kekuatan yang tak kenal mundur, ia adalah Akidah terhadap Allah – Sayyid Quthb

  1. b.      Tujuan Politik Islam 

Tujuan utama politik adalah memastikan aktivitas pemerintahan agar berorientasi pada kebaikan masyarakat dan meminimalisir kebijakan yang destruktif walaupun langkah-langkah tersebut tidak ada sumbernya dalam referensi Islam, tapi tentu tetap pada batas Tsawabit yang ada pada Islam. Ingat, pada ibadah ghairu mahdhah seperti politik, apapun boleh dilakukan kecuali jika ada dalil yang melarangnya. Tanpa pemahaman ini, seorang politikus muslim akan jadi ekstrem/kaku.

  1. c.       Domain Politik dan Referensinya

Referensi politik Islam adalah landasan bergerak seorang muslim dalam domain politik. Dalam istilah ushul fiqh disebut ad-dalil as-syar’i yaitu semua yang dijadikan landasan hukum syari’at dalam setiap aktivitas, baik berupa dlil yang pasti maupun perkiraan.

                                i.            Al-Qur’an dan Sunnah : Sudah jelas

                              ii.            Ijmak

Adalah persetujuan seluruh ahli ijtihad muslim dalam suatu masa setelah wafat Rasulullah saw. atas suatu hukum syar’i dalam menghadapi sebuah realitas. Insyaallah ini aman, karena harus disepakati oleh SELURUH ahli ijtihad dan Rasulullah saw. pernah mengatakan: “Umatku tidak akan pernah bersepakat dalam kesalahan.”

Islam tidak meninggalkan teks atas semua persoalan yang mungkin berubah secara substansial dan fundamental sesuai perubahan zaman, tempat, dan manusia, inilah yang disebut manthiqatul ‘afw.

  1. d.      Prinsip Politik Islam

                                i.            Keadilan : adalah konsistensi seluruh pelaku politik dengan standar akidah tauhid dalam menghadapi seluruh konstalasi politik

                              ii.            Syuro : Syuro tidak dilakukan dalam urusan-urusan detail yang sudah dijelaskan secara gambling dalam Al-Qur’an dan Sunah. Hasil keputusan syuro tidak boleh bertentangan dengan teks-teks syariat yang jelas dan tidak diperdebatkan

                            iii.            Kebebasan : Kebebasan mengekspresikan pandangan politik, memilih pemimpin, mengkritik, mengontrol politik dan membuat perkumpulan

 

  1. 6.      Mutaghayyirat Politik Islam

Adalah sesuatu yang bisa ditakwilkan atau dikiyaskan, oleh karena itu mutaghayyirat merupakan lading-ladang ijtihad dari semua urusan yang tidak ada dalil pastinya, baik dari teks maupun ijmak yang shahih.

  1. a.       Manuver Politikus Muslim

                                                              i.      Konfrontasi Politik

                                                            ii.      Revolusi Politik

                                                          iii.      Musyarakah (Partisipasi) Politik

  1. b.      Demokrasi adalah sistem yang paling kondusif untuk peletakan nilai-nilai Islam dalam pelaksanaan Negara, karena memungkinkan banyak partisipasi.

 

Negara bukanlah tujuan akhir. Negara adalah awal kita melangkah menuju peradaban dunia.

~ by Poundra Adhisatya Pratama on 16/09/2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: